PENYIMPANGAN LEMBAGA ZAKAT DAN TRAGEDI PASURUAN

Tragedi pembagian zakat yang menewaskan 21 orang memperebutkan uang 30 ribu rupiah pembagian zakat H. Syaichon,Sebagian besar diantaranya adalah ibu-ibu tua yang tewas setelah kehabisan nafas. menjadi salah satu fenomena kemiskinan yang begitu besar melanda penduduk negeri.

Ini merupakan babak baru sebuah akibat dari tidak meratanya penyebaran pembangunan ekonomi sehingga penyebaran uang tidak merata dan tidak menjangkau seluruh lapisan masyarakat di seluruh Indonesia seperti yang terjadi di pasuruan .

Banyak orang menyecam pembagian zakat yang dilakukan oleh H. Syaichon ini merupakan sebuah pelanggaran baik agama maupun hukum Negara, tapi kalau kita cermati sebuah niat baik yang dilakukan olehnya merupakan sebuah kewajaran dengan mendistribusikan sendiri prosentase penghasilan nya yang secara familiar kita kenal sebagai zakat maal, bukankah tuntunan islam mengajarkan kepada kita untuk membantu orang yang paling membutuhkan yang berada dekat disekitar kita sebagai mana disebutkan adalam AL-Qur’an surat Al-Isra ayat 26-29, yang artinya:Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros.

Dalam ayat diatas sudah jelas yang semestinya yang paling diutamakan oleh lembaga zakat adalah orang yang berada disekitar pemberi zakat tersebut, sementara kita ketahui lembaga zakat yang ada hanya menyalurkan hasil pengumpulan zakat kepada kelompok yang hanya termasuk dalam program lembaga zakatnya saja

Tidak semestinya H. Syaichon menjadi tersangaka akibat menunaikan ajaran agama islam melainkan ada sebuah kinerja dari aparat keamanan yang perlu kita evaluasi bersama. apakah suatu keharusan setiap kita manjalankan ajaran agama harus mendapatkan izin dan melakukan koordinasi kepada pihak kepolisian snagat ironi memang seakan ada pembatasan beragama disana, padahal Islam telah menajadi sebuah rahmatan Lil aalamin sejak zaman Rosulullah sampai kapanpun.

Bukan suatau hala yang aneh jika para dermawan yang memiliki harta berlebih selalu menyalurkan zakatnya secara langsung kepada yang membutuhkan, kita sama-sama mengetahui ini semua merupakan rentetan akibat maraknya korupsi diberbagai bidang sehingga terjadinya kemiskinan dan pemiskinan secara berjamaah. ada kemungkinan ketidak percayaan itu menular kepada lembaga zakat yang dikelola secara professional jangan-jangan hasil zakat yang dikumpulkan juga akan manjadi sebuah proyek yang akan dikorupsi atau untuk mendanai program kelompok partai dan juga golongan tertentu sehingga kepercayaan terhadap lembaga zakat belum maksimal.

Oleh karena itu sudah semestinya lembaga zakat yang memproklamirkan diri sebagai lembaga zakat yang professional melakukan sebuah transparansi dan mengumumkan laporan keuagannya kepada yang memberikan zakatnya itu.

Yang juga patut kita jadikan sebuah pertanyaan adalah apakah lembaga zakat yang secara besar-besaran beriklan ditelevisi yang menghabiskan dana berjuta-juta dapat dikategorikan sebagai penyimpangan zakat ?????? padahal niat dari seseorang yang menyalurkan zakatnya semata mata untuk membersihkan diri dan hartanya untuk disalurkan kepada kelompok yang berhak menerima zakat sebagaimana disebutkan dalam (Alqur’an surat At Taubah : 60) adalah:
a. Fakir yaitu orang-orang yang dalam kekurangan dan dalam kebutuhan, namun Ath Thabari membedakan fakir sebagai orang yang dalam kebutuhan, tetapi dapat menjaga diri tidak meminta-minta.
b.Miskin: Pada prinsipnya sama dengan fakir, dalam memenuhi kebutuhannya tersebut. mereka lebih suka meminta-minta.
c. Amilin :Mereka yang melaksakan segala kegiatan urusan zakat, seperti para pengumpul,bendahara dan para penjaganya. Juga pencatat sampai penghitung yang mencatat keluar masuk zakat, dan membagikannya pada mustahik
.d. Mualaf:Mereka yang diharapkan kecenderungan hatinya dapat bertambah terhadap Isla, atau terhalangnya niat jahat mereka atas kaum muslimin, atau harapan akan adanya kemanfaatan mereka untuk membela dan menolong kaum muslimin dari musuh.
e. Yang memerdekakan hamba sahaya Maksudnya, zakat harus dipergunakan untuk membebaskan budak belian dan menghilanhkan segala bentuk perbudakan
.f. Gharimin Mereka yang memilki hutang dan tidak memilki bagian yang lebih dari hutangnya. Baik hutang untuk kemaslahatan dirinya sendiri maupun untuk kemaslahatn masyarakat.
g. Fi Sabilillah yaitu oranag yang berjihad membela agama Allah. Kedua makna secara umum meliputi segala kebaikan dan taqarub pada Allah SWT.
h. Ibnu Sabil adalah kiasan untuk musafir, yaitu orang yang bepergian dari suatu daerah ke daerah lain dan keadaan mereka dalam kesusahan karena mendapat musibah, seperti habis bekal dalam perjalannya, atau sama sekali tidak memiliki harta.

sumber : http://eramuslim.net/?buka=show&id=693

Ditulis dalam Berita. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: