Potensi Tsunami Bisa Dideteksi

Penanganan Korban Tsunami Belum Selesai

Jakarta, Kompas – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono gembira karena potensi terjadinya tsunami pascagempa tektonik di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik bisa dideteksi dalam waktu makin singkat, yaitu maksimum 5 menit pascagempa.

Kecepatan deteksi potensi tsunami dalam sistem Indonesia Tsunami Early Warning System (Ina-TEWS) ini diuji coba dalam pelatihan kesiapsiagaan menghadapi tsunami (tsunami drill) di Pantai Lapangan Selago, Ciwandan, Cilegon, Banten, Rabu (26/12). Presiden Yudhoyono didampingi Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman serta Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah memantau dan menyaksikan simulasi ini.,

“Tahun 2007 ini, dalam lima menit kita sudah bisa mengetahui jika terjadi gempa bumi apakah ada potensi datang tsunami. Lima menit itu baik apabila (sisa waktunya) digunakan sebaik-baiknya untuk menyelamatkan diri,” ujar Presiden Yudhoyono.

Berdasarkan penelitian, Presiden mengemukakan, tsunami pascagempa tektonik di laut perlu waktu paling cepat 20 menit bagi gelombang tsunami untuk mencapai daratan. Dengan kecepatan deteksi makin tinggi, makin banyak waktu untuk penyelamatan, meminimalkan korban jiwa.

Tahun 2005, Indonesia baru bisa mendeteksi tsunami pascagempa dalam 12 menit. Tahun 2006, kecepatan deteksi menjadi sembilan menit.

Calang belum tertata

Tiga tahun pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi di Kota Calang, ibu kota Kabupaten Aceh Jaya, pembangunan sarana dan prasarana serta infrastruktur belum tertata rapi, termasuk pembangunan Rumah Sakit Umum Calang.

“Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) harus mempercepat proses rehab-rekon yang ada di Calang,” kata Bupati Aceh Jaya Azhar Abdurrahman pada peringatan tiga tahun peristiwa gempa dan tsunami di Desa Keutapang, Krueng Sabee, Calang, Aceh Jaya, kemarin.

Hadir Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, Gubernur NAD Irwandi Yusuf, dan Kepala BRR Aceh-Nias Kuntoro Mangkusubroto. Azhar mengatakan, dari sekitar 70 hingga 80 persen kerusakan sarana, prasarana, dan infrastruktur di Calang, baru sebagian yang dibangun. Ratusan keluarga pengungsi masih di barak. Bahkan, belum ada alat pendeteksi tsunami. Calang terletak di tepi pantai.

Dia mengatakan, wilayah kerjanya pun belum punya alat-alat pendeteksi tsunami. Padahal, alat itu sangat penting karena kota Calang berada persis di tepi laut.

Di kota-kota lain, seperti Banda Aceh, juga dilakukan peringatan tiga tahun tsunami. Di Pantai Lhok Nga, Pantai Ulee Lheu, Pemakaman Massal Ulee Lheu, dan Lambaro juga diadakan acara mengenang detik-detik datangnya tsunami. Warga Aceh diimbau mengibarkan bendera setengah tiang. “Tanggal 26 Desember telah dicanangkan sebagai hari bencana dan hari berkabung nasional,” kata Kepala Biro Hukum dan Humas Pemprov NAD Hamid Zein.

Bukan korban tsunami

Ratusan kepala keluarga di Kota Calang hingga hari ini banyak yang belum menikmati rumah baru ataupun rumah rehab. Menurut beberapa penghuni barak, banyak pemilik rumah bantuan ternyata bukan korban-korban tsunami, tetapi pendatang baru dari luar, pejabat-pejabat di lingkungan pemerintahan, dari kepolisian hingga TNI.

Cut Mariana (25), penghuni barak Adi Karya-Keutapang, Calang, mengatakan, rumah bantuan miliknya belum selesai. Fondasinya sudah dibongkar pasang beberapa kali. Kontraktornya pun sudah ganti beberapa kali.

Rumah bantuan milik Cut Mariana baru rangkanya saja. Dinding hingga atap sama sekali belum dibangun. Sementara Mak Tihaji (50), warga Keutapang, belum mendapat jatah.

Kuntoro mengakui masih banyak kelemahan dalam sistem kerja lembaga yang dipimpinnya. Ia berharap semangat untuk terus membangun Aceh tidak boleh luntur.

Gubernur Irwandi Yusuf menambahkan, sudah saatnya masyarakat Aceh bangkit. “Tinggalkan semua ratapan dan tangisan. Mulai hidup baru. Suatu hari masyarakat Aceh akan menjadi penyumbang karena selama ini kita disumbang masyarakat internasional,” katanya.

Sekitar 50 mahasiswa asal Aceh di Daerah Istimewa Yogyakarta kemarin menggelar aksi, “Dengan Seni Kami Berbagi”, di Bundaran Universitas Gadjah Mada. Mereka menilai pembangunan Aceh pascabencana belum maksimal.

Kegiatan yang dimotori Solidaritas Aksi Keadilan untuk Aceh (SAKA), Perhimpunan Anti Pemborosan Dana Masyarakat (PAPMA), dan Taman Pelajar Aceh (TPA) Yogyakarta itu mengeluarkan tiga tuntutan. Tuntutan itu adalah usut tuntas dugaan korupsi BRR, hentikan pemborosan, serta lakukan pembenahan dan pembangunan yang berorientasi kepada korban.

Mereka menggelar sejumlah poster, di antaranya berbunyi “Jangan Ciptakan Manusia Barak Aceh”, “Usut Korupsi di BRR (Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias)”, dan “Jakarta Jangan Tutup Mata”.((MHD/AIK/WER/INU/yun/nta))

Sumber: kompas
Not Rated!

Ditulis dalam Tsunami. Tag: . Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: