Jejak Tsunami Masih Tampak Nyata

26/12/2007 18:36 Aceh Pascabencana
Jejak Tsunami Masih Tampak Nyata

Liputan6.com, Aceh: Tiga tahun sudah bencana gempa dan tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam dan Nias, Sumatra Utara, berlalu. Namun anak-anak di sana masih harus berjuang mengembalikan sisa-sisa semangatnya untuk menapak hari depan yang lebih baik. Dibantu sutradara Riri Reza dan sejumlah relawan, Badan Dunia Urusan Anak-Anak dan Pendidikan (Unicef) berinisiatif membantu anak-anak Aceh. Yakni, membuat video catatan harian tentang kehidupan mereka setelah tsunami [baca: TIGA TAHUN TSUNAMI].,

Walaupun operasi pembersihan berlangsung cepat, bekas-bekas tsunami masih tersisa. Anak-anak seperti Remon mencari puing-puing yang tidak dapat dipindahkan dan menjadikannya tempat bermain baru. Kapal yang terdampar, misalnya. Namun bagi yang lainnya, kapal-kapal itu adalah simbol kesedihan mereka. Tiga tahun silam saat gelombang laut maha dahsyat mengamuk, sebuah tanker terbawa air sejauh enam kilometer. Kapal ini masuk ke daratan dan menghancurkan segala sesuatu yang dilaluinya. Dan kapal ini berhenti tepat di atas rumah Karim sehingga ia dan keluarganya kehilangan tempat tinggal.

Cerobong asap hitam khas kapal tanker mendominasi langit daerah itu sejak terdampar. Kapal itu terlalu besar untuk dipindahkan dan menjadi monumen peringatan bencana yang telah mereka alami. Bagi Karim, “kedatangan” tanker tersebut adalah berkah sekaligus cobaan. Karim menuturkan, saat itu orang-orang berdatangan dari belakang rumah mengatakan bahwa air datang. “Melihat banyak orang berlari, maka kami pun ikut berlari. Kami terperangkap di dalam rumah karena kami tidak tahu harus pergi ke mana. Dan kami terkunci di dalam. Air menjadi sangat tinggi sampai kepala kami menyentuh plafon rumah,” tutur Karim.

Untunglah, air tidak bertambah tinggi. Bila tidak, menurut Karim, dirinya beserta keluarga dan warga saat itu sudah meninggalkan dunia fana. Tak berapa lama, tutur Karim air surut dan seseorang mendobrak pintu dan menyelamatkan keluarganya. Setelah itu, mereka naik ke atap rumah. “Kami diam di atas karena tidak tahu harus bagaimana lagi. Apa yang harus dimakan. Di mana kami bisa tidur. Kemudian kami naik ke kapal. Benar-benar berantakan, penuh dengan kayu dan mayat,” ujar Karim menceritakan tatkala bencana tsunami menerjang.

Lebih jauh Karim menuturkan, ketika itu dia beserta keluarga tak tahu hendak pergi ke mana. “Kami memutuskan untuk tidur di atas kapal sehari itu. Kami tidur di bawah hujan, tanpa lampu dan dikelilingi teriakan minta tolong orang-orang,” tutur Karim. Itulah sekelumit video catatan harian Karim. Dalam video, Karim pun menceritakan perjuangan keluarganya dalam mendapatkan kompensasi atas rumah mereka.

Proyek video diary Unicef memang memberi kesempatan kepada anak-anak untuk mengekpresikan cita-cita dan membantu mereka memfokuskan diri pada masa depan. Kamera mereka memberi kesempatan menangkap momen berharga yang ingin mereka kenang. Dan mengalihkan mereka dari kenangan buruk yang ingin dilupakan.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)

Ditulis dalam Tsunami. Tag: . Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: