Banyak Warga Aceh Masih Tinggal di Barak

25/12/2007 18:18 Aceh Pascabencana
Banyak Warga Aceh Masih Tinggal di Barak

Liputan6.com, Meulaboh: Mar Ginting kini masih tinggal di barak pengungsian. Padahal, tiga tahun telah berlalu sejak warga Desa Pasir, Aceh Barat, Nanggroe Aceh Darussalam, ini tertimpa musibah tsunami. Kala itu rumah yang dibangun keluarganya rata disapu gelombang laut maha dahsyat. Ia pun berharap bantuan rumah segera terwujud [baca: Mengapa Bencana Ini Harus Terjadi di Aceh?].

Lain lagi penuturan Dewi, pengungsi lainnya. Wanita ini khawatir dirinya tak memperoleh bantuan rumah. Sebab, Dewi merupakan keluarga baru yang belum lama menikah di pengungsian. Adapun Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias pun tak bisa berbuat banyak. Rumah untuk warga sebenarnya sudah dibangun lembaga swadaya asing di Desa Pasir. Namun, rumah bantuan ini terbenam pasir laut yang terbawa gelombang. Alhasil sejumlah rumah buat korban tsunami harus dibongkar lagi.,

Keadaan hampir serupa dialami ratusan kepala keluarga korban tsunami di Lhokseumawe, Aceh. Mereka adalah warga Desa Pusong Baru dan Pusong Lama, yang menjadi korban tsunami tiga tahun yang lalu. Tapi, apa hendak dikata. Hingga kini mereka masih tinggal di barak pengungsian. Mereka mengaku sudah tak betah untuk tetap tinggal lokasi ini, hanya saja mereka tidak punya pilihan lain.

Tsunami memang sudah berlalu, tapi masih ada sekitar 3.900 kepala keluarga yang tinggal di pengungsian. Sampai kapan mereka mesti tinggal di barak pengungsian?

Tercatat, bencana gempa dan tsunami di Tanah Jeumpa, tiga tahun silam itu menelan korban 200 ribu orang dan lebih dari setengah juta penduduk kehilangan tempat tinggal. Kendati demikian, luka batin adalah luka tersembunyi yang menjadi tantangan terbesar untuk disembuhkan.

Dengan dibantu sutradara Riri Riza dan beberapa relawan, Badan Dunia Urusan Anak-Anak dan Pendidikan (Unicef), berinisiatif menolong anak-anak Aceh membuat video. Video ini berupa catatan harian tentang Kehidupan Setelah Tsunami. Tujuannya tak lain untuk membantu para bocah tersebut mengatasi kesedihan dan trauma. Dengan arti lain untuk memfokuskan perhatian anak-anak pada masa depan ketimbang terpaku pada masa lalu [baca: TIGA TAHUN TSUNAMI].

Dendy Montgomery termasuk orang pertama yang direkrut Unicef untuk membantu anak-anak korban tsunami agar bisa mengatasi kesedihan mereka. Ia menjadi tim pembuat film yang membantu anak-anak memproduksi video catatan harian tersebut. Anak-anak ini berasal dari wilayah yang mengalami kerusakan paling parah di Aceh. Sekalipun ada anggota keluarga yang selamat, mereka telah kehilangan banyak teman sekolah dan tetangga. Selain sutradara film, banyak teman mereka yang ikut serta dalam pembuatan video, baik sebagai pemain atau membantu secara teknis.

Proyek video diary Unicef adalah gagasan sutradara Indonesia, Riri Riza. Filmnya diputar melalui bioskop keliling di sekitar Aceh untuk memberikan hiburan bagi masyarakat yang terisolasi. Bintang dan pemeran film Untuk Rena juga datang ke wilayah berjuluk Serambi Mekah itu untuk mendorong dan menyemangati anak-anak dalam membuat video catatan harian mereka.

Salah seorang anak yang paling terinspirasi oleh kunjungan bintang dan pemeran film adalah Remon. Bahkan, ia berencana menjadi orang terkenal suatu hari nanti. Remon pun membeli hadiah untuk para pemain film dan meminta masukan mereka mengenai cita-citanya. Dan waktu berpisah adalah saat paling emosional untuk mereka semua.

Boleh dibilang, proyek video diary Unicef memberi kesempatan kepada anak-anak untuk mengekpresikan cita-cita mereka. Serta, membantu mereka memfokuskan diri pada masa depan. Kamera mereka memberi kesempatan menangkap momen berharga yang ingin dikenang. Sekaligus mengalihkan mereka dari kenangan buruk yang ingin dilupakan.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)

Ditulis dalam Berita. Tag: . Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: