Perkawanan Tunanetra dan Komputer

Senin, 24/12/2007 10:27 WIB
Catatan oleh Rama
Perkawanan Tunanetra dan Komputer
Eko Ramaditya Adikara – detikinet
Jakarta – Pembaca, tak terasa sudah lebih dari setahun penulis (tunanetra) mendapat kehormatan mengisi kolom “Catatan Oleh Rama” di detikINET.

Tak terasa pula, 10 tahun berlalu sejak penulis mulai mendalami yang namanya teknologi informasi atau TI, yang berawal dari 20 tahun silam, dimana penulis mulai berkenalan dengan TI. Nah, kali ini penulis ingin berbagi pengalaman dengan pembaca detikINET, tentang perjalanan seorang tunanetra yang menjadikan TI sebagai salah satu elemen utama dalam kehidupannya.

Komputer. Siapa yang tak mengenal perangkat elektronik itu? Benda yang tidak diragukan lagi, telah menjadi bagian dari kehidupan manusia modern. Hampir seluruh aktivitas kerja kita saat ini disokong oleh benda yang satu ini.,

Lalu, bagaimana seorang penyandang tunanetra seperti Eko Ramaditya Adikara dapat berinteraksi dengan komputer yang notabene membutuhkan penglihatan untuk dapat mengoperasikannya? Simak pengalaman penulis lewat artikel ini!

Sebenarnya, penulis sudah mengetahui nama komputer sejak kecil. Hanya saja pada saat itu pengertian penulis akan komputer masih bias, antara mesin game, mesin hitung, dan mesin untuk menulis surat. Entah mengapa, penulis begitu tertarik berdekatan dengan benda yang satu itu, barangkali karena imajinasi penulis yang saat itu senang menonton film kartun futuristik yang mengetengahkan komputer di dalam ceritanya, atau karena tetangga yang saat itu memiliki Atari Street, sebuah komputer yang juga berfungsi sebagai mesin game yang dirilis oleh Atari (1986).

Jadi, ketika ditanya saat itu (5 tahun), apa cita-cita penulis, maka dengan lantangnya penulis menjawab “Ingin jadi ahli kompyuter!” (saat itu cara eja yang penulis lafalkan adalah seperti yang tertulis)

Pengertian penulis akan komputer semakin luas ketika penulis mulai bersekolah di SD-SLB/A Pembina Tingkat Nasional yang terletak di bilangan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Setiap minggu sehabis pulang dari asrama, penulis diajak ayah penulis ke kantornya. Disitulah penulis diperkenalkan dengan komputer platform DOS (Disk Operating System) dan beberapa komputer Amiga yang saat itu (1989) boleh dibilang populer. Disinilah penulis mengenal game-game komputer berbasis DOS yang cukup legendaris, seperti Digger, Pac-Man, Othello, atau Double Dragon dan Ghostbuster yang sudah multi-disket.

Penulis juga mulai mengenal nama-nama aplikasi pengolah kata dan data seperti Lotus 123, WordStar, Dbase, dan beberapa bahasa pemrograman, meskipun pada saat itu penulis hanya mengenal nama tanpa tahu banyak mengenai fungsinya (lebih tertarik pada game).

Pada tahun 1994, penulis bergabung dengan Yayasan Mitra Netra yang berkiprah di bidang pengembangan potensi diri dan pendidikan tunanetra. Disitulah penulis mengenal adanya komputer bicara, yaitu seperangkat komputer biasa yang dilengkapi dengan peralatan khusus yang membuatnya dapat mengeluarkan suara. Cara kerjanya: perangkat keras dan perangkat lunak khusus yang terpasang di komputer tersebut mengkonversi teks atau obyek yang muncul di layar monitor dalam bentuk suara. Jadi, semisal penulis mengetikkan perintah CD\WINDOWS maka akan terdengar suara “si di backslash windows” (artikulasi bahasa Inggris yang ditulis dalam bahasa Indonesia).

Sayangnya, aplikasi untuk komputer bicara itu harganya masih terlalu mahal dan tidak dapat dimiliki secara individu. Oleh karenanya, penulis sering memanfaatkan komputer yang ada di Mitra Netra untuk mempelajari DOS dan beberapa aplikasi dasar pengolah kata dan data seperti WordStar, WordPerfect, Lotus 123, Dbase, dan sejumlah aplikasi lain. Dalam perkembangannya, penulis banyak menggunakan aplikasi pengolah kata dikarenakan penulis sangat menyenangi tulis-menulis.

Pada tahun 1996, salah seorang mahasiswi UI tingkat akhir — namanya Silvia — yang sedang mengadakan penelitian di asrama penulis merasa kagum saat melihat penulis yang membukukan buku harian dalam format dokumen WordStar. Setelah lulus dan bekerja sebagai sekretaris, secara pribadi Silvia mengajari penulis berbagai teknik penguasaan keyboard, termasuk shortcut dan teknik mengetik 10 jari. Dalam jangka waktu kurang dari 2 bulan, penulis telah berhasil menguasai teknik mengetik 10 jari dengan lancar. Hingga saat ini, ilmu yang diwariskan Silvia telah berhasil membuat penulis mengetik sebanyak 60 kata (Indonesia/Inggris) dalam waktu 1 menit.

Tahun 1998 adalah tahun dimana penulis berkenalan dengan sistem operasi buatan Microsoft, Windows. Pada saat itu penulis mempelajari Windows 95, setelah akhirnya memiliki komputer sendiri yang berbasis Windows 98. Pada saat itu, penulis mengetahui bahwa komputer bicara pun dapat diwujudkan dengan teknologi sekarang, dan tak perlu membeli perangkat khusus. Cukup memasang soundcard dan speaker pada komputer, lalu memasang software pembaca layar (screen reader) yang fungsinya sama seperti yang telah penulis jelaskan di atas.

Produk pembaca layar yang sangat populer dan juga penulis gunakan hingga saat ini adalah JAWS (Job Access With Speech). Keterangan lebih lanjut dapat langsung dilihat di situs officialnya di http://www.freedomscientific.com

Lewat aplikasi JAWS inilah penulis semakin memperluas pengetahuan penulis di bidang komputer. Hingga saat ini, penulis dapat mengoperasikan berbagai pengolah kata, pengolah data, spreadsheet, aplikasi pembuat musik, multimedia, messenger, bahkan berselancar di internet dan mendesain situs pribadi penulis. Penulis juga dapat bercakap-cakap via messenger, burn CD/DVD, melakukan konversi audio/video, dan belajar beberapa bahasa pemrograman seperti Visual Basic dan Visual C++.

Merasa kurang puas dengan apa yang penulis peroleh, penulis juga mendalami ilmu mengenai perangkat keras (hardware), baik komputer maupun notebook. Melalui buku-buku dan majalah komputer, penulis banyak mempelajari berbagai pengetahuan seputar komputer, optimasi sistem operasi, bahkan jaringan. Penulis juga mulai mencoba merakit komputer sendiri, tak jarang dimintai tolong oleh kenalan yang ingin memperoleh komputer harga miring dengan konfigurasi baik.

Mengoperasikan dan belajar perangkat lunak pada Windows merupakan kegemaran penulis. Tantangan utama yang dihadapi penulis sebagai tunanetra adalah soal kompatibilitas pembaca layar terhadap perangkat lunak. Tak semua perangkat lunak dapat dibaca atau dikenali oleh pembaca layar. Solusinya, biasanya penulis menghafal shortcut atau mencari skrip pembaca layar — lewat internet — yang sengaja dibuat orang yang ingin membantu tunanetra menggunakan aplikasi tertentu. Skrip tersebut nantinya di-import sehingga pembaca layar dapat mengenali aplikasi yang sedang dijalankan.

Dalam proses pembelajaran perangkat keras, kendalanya sama banyak dengan belajar perangkat lunak. Penulis harus mampu mengenali hardware hanya dengan perabaan, kemudian membedakan kabel-kabel yang berlainan warna. Untuk mengakalinya, biasanya penulis memberi tanda dengan menempelkan stiker atau tanda pengenal yang dapat diraba dan dijadikan sebagai penanda. Tentu saja, kejadian-kejadian “menyenangkan”seperti tersengat alus listrik, meledaknya prosesor akibat salah overclock, atau tertukar posisi saat memasukkan port pernah penulis alami.

Tunanetra Membaca

Lalu, bagaimana penulis dapat membaca buku atau majalah yang bukan braille, sedangkan penulis tidak dapat melihat? Awalnya, orangtua — dalam hal ini ayah penulis — dan juga teman-teman penulis merekam buku-buku pelajaran sekolah ke bentuk kaset sehingga penulis dapat memperoleh informasi yang ada dalam media cetak dengan cara mendengarkan kaset tersebut. Hal itu termasuk media cetak komputer milik penulis.

Kini, penulis sudah dapat membaca media cetak sendiri, caranya adalah dengan menggunakan scanner dan memanfaatkan teknologi OCR (Optical Character Recognition), yaitu teknik memindai tulisan di buku menjadi teks dengan cara melakukan scan pada media cetak, dan hasilnya dapat disimpan dalam format teks atau MS-Word, yang dapat dibaca oleh screen reader.

Sungguh sebuah mimpi yang menjadi kenyataan, ketika TI menghantarkan penulis meraih pekerjaan, hobi, dan cita-cita yang selama ini seakan-akan mustahil bagi tunanetra. Kalau boleh bilang, rasanya 80% kehidupan dan aktivitas penulis saat ini tak lepas dari sokongan dan keberadaan teknologi.

Sebagai seorang penggila game, penulis pun hobi menciptakan musik digital dengan menggunakan komputer. Penulis juga sangat menyukai musik game, dan pada perkembangannya menjadikan musik game sebagai jenis musik yang paling penulis sukai. Kesukaan tersebut yang akhirnya menghantarkan penulis menjadi salah seorang kontributor musik developer game Squaresoft (1997), terus berlanjut hingga akhirnya penulis memperoleh kepercayaan untuk menjadi salah satu sound engineer di Nintendo Co. Ltd. (2006). Terlepas dari itu, penulis juga sering membuat musik untuk teman-teman yang ingin mengadakan operet, pertunjukan, atau film kecil-kecilan.

Peran ilmu yang diwariskan Silvia pun sangat penting, terutama saat penulis mulai berkarir sebagai jurnalis di berbagai media cetak dan online.

Penulis memulainya dengan menjadi kontributor majalah HotGame (2003), dilanjutkan dengan menjadi kolumnis Mitra Netra News Online (2005). Pada tahun 2006, penulis bertemu dengan redaktur detikINET — Pak Donny B.U. — yang akhirnya mempersilahkan penulis untuk bergabung dengan detikINET. Tak lupa, penulis juga diajak rekan-rekan dari Mobile Magazine — sebuah free media gadget — untuk membantu mengulas perkembangan gadget dan game.

Saat mulai menjadi kolumnis online, penulis banyak mendapat gemblengan dari mentor-mentor pelatihan yang berasal dari Kantor Berita ANTARA dan detikcom. Pada perkembangannya, penulis memilih untuk menjadi kolumnis TI dan game, karena selain posisi ini masih langka diduduki oleh tunanetra, posisi ini mungkin akan menjadikan penulis tampil “nyentrik,” barangkali?

Saat ini, penulis juga bekerja sebagai IT Support dan teknisi untuk sebuah perusahaan baru yang terletak di bilangan Pasar Minggu. Situs officialnya — yang penulis kelola — dapat diakses di http://www.enakmakan.com.

Di perusahaan ini, selain menangani software dan jaringan, penulis juga berurursan dengan perangkat keras kantor. Lagi-lagi, yang namanya kena stroom, salah tancap kabel, atau tertimpa hardware yang jatuh sudah menjadi teman penulis sehari-hari.

Hidup Santai Dengan TI

Untuk mengisi waktu luang, biasanya penulis melakukan browsing minimal 2 jam sehari. Hal tersebut sudah termasuk cek e-mail, download artikel, mencari sumber berita, dan bercakap-cakap via messenger dengan rekan dan sahabat. Kalau sedang mengunduh musik game atau video — yang bisa mencapai lebih dari 2 GB sehari –, ditambah dengan main game online (http://www.darkgrimoire.com), bisa-bisa waktu online mencapai tujuh kali lipatnya, atau sekitar 14 jam sehari!

Kalau bepergian, penulis pun tak ingin lepas dari teknologi. Biasanya penulis selalu menyertakan iPod Shuffle untuk menghibur telinga, dan sebuah PDA untuk memasukkan catatan singkat apabila ada telepon yang mengharuskan penulis mencatat (tidak bisa menulis dengan ponsel karena terhubung dengan headset). Untuk ponsel dan PDA, keduanya juga telah dilengkapi pembaca layar, sehingga aktivitas seperti SMS dan lainnya tetap dapat penulis lakukan.

Demikianlah kisah perjalanan penulis dalam dunia informasi dan teknologi. Dengan adanya catatan ini, penulis berharap dapat membantu pembaca lain untuk memahami bahwa berkat IT, hal-hal yang sebelumnya mustahil ternyata dapat diwujudkan, dalam hal ini tunanetra, baik berkomputasi maupun berkompetisi dalam bidang pendidikan dan pekerjaan.

Semoga di kemudian hari, tak hanya tunanetra yang termotivasi untuk jadi lebih hebat dan orang berpenglihatan yang tergerak untuk membantu, tapi juga lapangan pekerjaan dan kesempatan bagi tunanetra pun semakin terbuka.

Berikut ini aplikasi-aplikasi yang sering penulis gunakan.

Aplikasi kerja:

* Microsoft Office
* OpenOffice

Multimedia:

* Winamp
* Windows Media Player
* Media Player Classic
* PowerDVD

Browser:

* Internet Explorer
* Mozilla Firefox
* Music & Audio Maker/Editor:
* Cakewalk SONAR
* Cakewalk Pro Audio
* Cubase
* Reason
* Adobe Audition

Messenger:

* SKYPE
* Yahoo! Messenger
* Windows Messenger
* AOL
* ICQ
* Assistive Application (Aplikasi khusus tunanetra):
* JAWS For Windows
* OpenBook

Penulis, Eko Ramaditya Adikara (Rama), adalah seorang tuna-netra yang gemar menulis menggunakan komputer. Penulis tergabung dalam Yayasan Mitra Netra (MitraNetra.or.id). Blog pribadinya dapat dibaca di alamat http://www.ramaditya.com. ( rou / rou )

Ditulis dalam Berita. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: