TIGA TAHAP PENANGANAN BENCANA GEMPA di JOGYA & JAWA TENGAH

Menghadapi bencana gempa bumi di Jogyakarta dan Jawa Tengah, Jaringan INSIST telah memutuskan untuk melakukan tiga tahapan kegiatan. Tahap pertama (Tahap Tanggap-darurat, direncanakan sampai akhir Juni 2006) pada dasarnya berisi kegiatan pelayanan bantuan kemanusiaan langsung kepada para korban. Tahap kedua (Tahap Peralihan, direncanakan selama Juli 2006) adalah untuk mempersiapkan tahap berikutnya, yakni tahap ketiga (Tahap Pemulihan dan Penataan, direncanakan sampai Juni 2007 dan seterusnya) yang merupakan inti dari program Jaringan INSIST dalam penanggulangan bencana ini. Pada tahap ketiga inilah, kami akan memilih hanya beberapa desa di 4 kecamatan (masing-masing 2 di Kabupaten Bantul, Jogyakarta; dan 2 di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah) untuk bekerja dengan pendekatan menyeluruh yang berbasis pada korban dan masyarakat setempat (community-based reconstruction and rehabilitation program),
I. TAHAP TANGGAP-DARURAT (EMERGENCY RESPONSE); sampai akhir Juni 2006

Tahap tanggap-darurat adalah masa pelayanan bantuan kemanusiaan langsung kepada para korban sejak hari pertama terjadinya bencana. Lama tahap ini terutama bergantung pada besarnya dampak kerusakan yang diakibatkan oleh bencana tersebut. Terhadap bencana gempa bumi 27 Mei 2006 di Jogyakarta dan sebagian Jawa Tengah, berdasarkan pengalaman selama ini, kami memperkirakan masa tanggap-darurat disana akan berlangsung sekitar sebulan penuh, yakni sampai akhir Juni 2006.

Tujuan dan Sasaran

Tujuan dan sasaran utama tahap ini adalah membantu memenuhi kebutuhan pokok hidup sehari-hari para korban agar tidak semakin menderita dan mampu bertahan hidup sampai keadaan kembali pulih. Karena itu, kegiatan utama pada tahap ini adalah penyaluran bantuan kemanusiaan dalam bentuk penyediaan pangan dan sandang, tempat penampungan sementara (darurat), pelayanan kesehatan, dan sebagainya.

Strategi

Tetapi, Tim Relawan Kemanusiaan (TRK) Jaringan INSIST sekaligus juga akan memanfaatkan masa pelayanan bantuan kemanusiaan ini sebagai ‘titik awal’ (entry-point) ke arah proses-proses pemulihan dan penataan jangka-panjang pada tahap berikutnya nanti.

Kegiatan

Untuk itu, sambil melakukan kegiatan-kegiatan pelayanan bantuan kemanusiaan mereka, setiap anggota TRK-INSIST juga melakukan pengamatan untuk menemukan orang-orang setempat (terutama para korban bencana itu sendiri) yang potensial untuk dikembangkan lebih-lanjut sebagai tenaga-tenaga ‘penggerak’ utama dalam proses-proses pemulihan dan penataan selepas masa darurat saat ini. Pada saat bersamaan, para anggota TRK-INSIST juga melakukan pendataan (baseline) untuk memilih desa-desa tertentu (dari puluhan desa yang dilayani pada masa tanggap-darurat ini) yang nantinya akan ditetapkan sebagai lokasi utama program pemulihan dan penataan jangka-panjang.
II. TAHAP PERALIHAN (TRANSITIONAL); selama Juli 2006.

Tahap ini merupakan masa-singkat beranjak keluar (phasing out) dari tahap tangga-darurat ke tahap berikutnya, yakni tahap pemulihan dan penataan kembali. Dengan kata lain, tahap ini pada dasarnya adalah masa persiapan sosial untuk memulai kembali kehidupan wajar (normal) mereka seperti sediakala atau ke taraf yang lebih baik lagi dalam jangka-panjng di masa mendatang.

Tujuan dan Sasaran

Karena itu, tujuan dan sasaran utama tahap ini adalah terbentuknya Badan Pemulihan dan Penataan Desa (BPPD) pada beberapa desa terpilih sebagai ‘tim inti’ yang akan menggerakkan warga masyarakat lainnya melakukan proses-proses pemulihan dan penataan kembali semua prasarana kehidupan dan kelembagaan sosial-ekonomi desa mereka.

Strategi

Sesuai tujuan dan sasarannya, maka strategi dasar yang akan ditempuh pada tahap ini adalah menumbuhkan kembali kesadaran harga-diri dan martabat mereka sebagai manusia (setelah trauma bencana) serta semangat kesetiakawanan dan kegotong-royongan tradisional mereka sebagai suatu perkauman (community).

Kegiatan

Kegiatan-kegiatan pokok pada tahap ini, antara lain: (1) Pembersihan desa/kampung yang cara-cara pelaksanaannya akan dimusyawarahkan dan disepakati bersama dengan para korban warga setempat; (2) Pelatihan dasar untuk beberapa warga terpilih sebagai pengorganisir lokal (local organizer) dalam rangka menyiapkan pembentukan Badan Pemulihan dan Penataan Desa (BPPD); (3) Pelatihan-pelatihan teknis, terutama untuk pembangunan kembali rumah-rumah penduduk, penataan lingkungan hidup setempat, dan pembangunan basis-basis penghidupan berkelanjutan (sustainable livelihood); dan (4) Pemetaan partisipatif dan tematis terhadap beberapa desa yang telah dipilih sebagai lokasi utama kerja-kerja pemulihan dan penataan kembali pada tahap berikutnya.

III. TAHAP PEMULIHAN dan PENATAAN KEMBALI (RECONSTRUCTION and REHABILIATION); sampai akhir Juni 2007.

Tahap ini merupakan tahap inti yang sesungguhnya dari seluruh proses penanganan bencana dan pelayanan korban yang diakibatkannya. Berdasarkan pengalaman kami selama ini, tahap inilah justru yang paling sering dilupakan, atau dianggap sebagai tanggungjawab utama pemerintah saja. Akibatnya, banyak proses-proses pemulihan dan penataan kembali di banyak daerah bencana selama ini, khususnya di Indonesia, berlangsung dalam suatu kerangka pendekatan yang serba-terpusat, mengabaikan asas partisipasi masyarakat dan otonomi kelembagaan sosial lokal. Karena itu, kami memutuskan untuk menjadikan tahap ini sebagai prioritas utama kami di kawasan bencana di Jogyakarta dan Jawa Tengah.

Tujuan dan Sasaran

Karena itu, tujuan dan sasaran utama dari tahap ini adalah menciptakan suatu ‘model’ pemulihan dan penataan kembali berbasis masyarakat (community-based reconstruction and rehabilitation).

Strategi

Mengingat kompleksitas permasalahan yang akan dihadapi, selain pertimbangan ketersediaan sumberdaya kami yang memang terbatas, maka kami memusatkan pelaksanaan tahap ini hanya pada beberapa desa terpilih di 4 kecamatan saja (masing-masing 2 di Kabupaten Bantul, dan 2 juga di Kabupaten Klaten). Kami akan memilih desa-desa tersebut berdasarkan beberapa tolok-ukur utama, yakni desa-desa yang memang menderita dampak serius dari bencana gempa-bumi; masih tergolong sebagai ‘desa miskin’ (paling tidak dibanding dengan desa-desa lain sekitarnya); namun memiliki modal sosial yang potensial untuk lebih diberdayakan ke arah otonomi dan kemandirian. Dalam hal ini, kami berharap bahwa BPPD yang telah terbentuk akan segera berfungsi optimal sebagai pelaksana utama seluruh kegiatan pada tahap ini, sementara Jaringan INSIST hanya akan berperan sebagai ‘sistem pendukung’ (supporting, backup system) saja.

Kegiatan

Secara garis-besar, kegiatan-kegiatan utama pada tahap ini, antara lain, mencakup: (1) Pembangunan kembali perumahan dan lingkungan pemukiman penduduk berbasis kebutuhan dan kemampuan mereka sendiri (community-based housing), dengan penekanan pada aspek sistem sanitasi lingkungan organik daur-ulang; (2) Penataan kembali prasarana utama desa, khususnya yang berkaitan dengan sistem produksi pertanian; (3) Pembangunan basis-basis perekonomian desa dengan pendekatan penghidupan berkelanjutan, terutama pada kedaulatan dan keamanan pangan (food security and sovereignty) dan ketersediaan energi yang dapat diperbaharui (renewable energy); serta perintisan model sistem kesehatan desa yang terjangkau dan efektif.

kerangkakerja

Sistem Pendukung, Pemantauan & Evaluasi. Dalam pelaksanaan keseluruhan tahapan tersebut, organisasi-organisasi anggota INSIST akan dikerahkan untuk memobilisasi sumberdaya (dalam dan luar negeri) untuk membantu para korban, yakni masyarakat setempat, untuk mencapai tujuan-tujuan dan sasaran pada setiap tahap. Namun, dukungan Jaringan INSIST yang paling utama dalam hal ini adalah sebagai sistem pendukung penyedia keahlian, informasi, dan bantuan teknis yang mereka butuhkan. Jaringan INSIST terutama akan mengerahkan kemampuan terbaiknya selama ini dalam bidang pendidikan dan pelatihan warga, pengorganisasian masyarakat, dan pengembangan jaringan akses dan kongsi sumberdaya. Dewan Pengurus INSIST akan melakukan pemantauan dan evaluasi berkala pada akhir dan awal setiap tahap, kemudian memanfaatkan semua data dan informasi yang diperoleh dari pemantauan dan evaluasi itu sebagai ‘bahan pembelajaran bersama’ dengan masyarakat dan organisasi-organisasi lain, selain sebagai ‘bahan advokasi kebijakan’ terhadap pemerintah daerah setempat.

Organisasi. Tim Pengarah (Roem Topatimasang, Ahmad Mahmudi, Toto Rahardjo, Amir Sutoko, Saleh Abdullah, Wilarsa Budiharga, Made Suarnatha, Ririn Hapsari); Tim Kordinasi (Rohadi, Yudhi Kusnanto, Yoga Atmaja, Parjono, Dewi, Edi); Tim Lapangan (Purnomo WS dari LPTP, YB.Anggito Susilo dari SALAM, Trias Prasetyo dari Perhimpunan Mitra Tani; dan Dewi Woro dari LSKaR); Tim Pendukung (Henri Myrttinen, Miriam Mesli, Anna Maria Adamsczyk).

INSIST Jalan Anggajaya I/282 Condong Catur Yogyakarta 55281 Indonesia • Phone/Fax: +62-274-884153

Ditulis dalam Gempa. Tag: . Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: