Sebuah Semangat Mediasi Reflektif-Otokritik (ARTIKEL)

MELIHAT ULANG PERJALANAN REKOMPAK DI WILAYAH KOORLAP #01 KLATEN DMC REGION 2 JAWA TENGAH

Penulis : JP Agung Nugroho (Korlap-1 DMC Klaten)

Berbicara mengenai REKOMPAK-JRF tidak dapat dilepaskan dari bencana gempa bumi tektonik yang terjadi pada hari Sabtu, 27 Mei 2006 yang lalu di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya diwilayah Kabupaten Klaten disepanjang bagian Selatan dan wilayah Kabupaten Bantul disepanjang bagian Selatan dan Barat.

Diwilayah eks KoorKot #01 P2KP Reguler, kegiatan yang berhubungan dengan penanganan pasca-bencana tersebut diawali dengan kegiatan Tanggap Darurat yang pada saat itu digagas dan dilakukan oleh para Fasilitator dengan membuka Posko Tanggap Darurat yang pada saat itu bekerja sama dan didukung oleh banyak pihak seperti Keuskupan Agung Semarang, UNICEF, Pelita Kasih Jakarta, TEMPO Group Jakarta, Komunitas untuk Kemanusiaan Tegalombo-Salatiga, TV-7, TPI, IOM, CHF, CRS, Habitat, Pondok Solidaritas, SATLAK PBP Kabupaten Klaten, SARDA I Propinsi Jawa Tengah dan komunitas lain yang sejenis; serta dukungan personal baik dari Bank Dunia, Personal di Internal P2KP maupun PT Tera Buana Manggala Jaya, PU Provinsi, KIMTARU Provinsi serta pribadi-pribadi peduli lainnya.,
Dalam perjalanannya melayani kebutuhan darurat warga-korban khususnya diwilayah Kecamatan Gantiwarno, Jogonalan, dan Kebonarum; keterlibatan BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat) P2KP Reguler menjadi sangat signifikan sebagai penunjuk arah dan sasaran bantuan logistik bagi masing-masing desa. Interaksi yang selama waktu praktek pendampingan dan pelaksanaan P2KP Reguler diwilayah KoorKot #01 benar-benar menunjukkan wajah aslinya pada saat terjadinya krisis pada waktu itu. Betapa pada masa itu, segala sesuatunya bisa menjadi sebegitu nyata bahwa sesiapapun yang terlibat dalam kegiatan emergency respond tersebut melebur dalam perasaan dan pemahaman bahwa ada sesuatu yang bisa dan harus dilakukan bersama demi dan atas nama kesetiakawanan dan kemanusiaan.
Memasuki masa peralihan menuju tahap rehabilitasi-rekonstruksi, gerbong REKOMPAK-P2KP Peduli menjadi fokus selain pengamanan dana BLM yang telah tersalur sebelumnya. Pada masa tersebut, Fasilitator diminta untuk mengadakan rembug warga dimasing-masing desa dampingan guna menentukan 10 titik bakal penerima manfaat bantuan. Dalam balutan situasi dan suasana yang masih diliputi suasana kedukaan, kebingungan dan ketidakpastian yang dialami warga-korban, ditambah situasi internal pada masa itu yang dialami oleh Fasilitator terkait perubahan jumlah bantuan per unit dari 30 juta menjadi 20 juta, sementara wacana bantuan 30 juta per unit telah disosialisasikan kepada warga-korban; keadaan sungguh-sungguh terasa menyesakkan. Terlepas dari kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi oleh sesiapapun pada masa itu, kesanggupan Fasilitator benar-benar teruji. Tarikan nafas lega pun terdengar riuh ketika 2400 unit rumah dapat terselesaikan pembangunnya dan Bantuan Dana Lingkungan sebesar 250 juta rupiah per desa dapat terrealisasikan penggunaannya.

Sesuai dengan penamaannya, REKOMPAK-P2KP Peduli atau REKOMPAK Bridging, maka 2400 unit rumah yang terbangun ditindaklanjuti dengan peluncuran REKOMPAK-JRF. Untuk edisi 2006 (biasa disebut juga dengan JRF Fase I), KoorLap #01 hanya mengampu pekerjaan di wilayah Kecamatan Gantiwarno dengan 11 desa penerima manfaat. Dari jumlah KSM-P (sekarang KP), tercatat ada 106 KSMP dengan 1.197 orang (keluarga) penerima manfaat. Perjalanan yang tidak mudah telah dialami oleh Team besar REKOMPAK-JRF sampai pada titik realisasi jumlah tersebut di KoorLap #01.
Wacana kebingungan tentang deadline, lebarnya rentang varian pemahaman kriteria calon penerima manfaat, sampai mekanisme pemberdayaan yang harus beradu kesempatan, waktu, dan urgensi dengan ranah dan khasanah teknik menjadikan kondisi pada masa itu sungguh berat untuk dihadapi. Pun, masalah-masalah sosial dilevel warga benar-benar menjadi titik perhatian lain yang juga harus dikawal perjalanannya sehingga jalannya REKOMPAK-JRF dapat benar-benar berada dalam kendali yang direncanakan.
Peran BKM dan Aparat Desa terutama para KaDes tiba-tiba berubah drastis. Entah karena mereka mempunyai kepentingan, atau karena bergesernya paradigma pendekatan REKOMPAK-JRF terhadap mereka. Kondisi nyata dilapangan pada masa itu menempatkan Team REKOMPAK-JRF pada situasi yang sulit karena adanya pihak-pihak lokal yang merasa terlangkahi sehingga resistensi atas REKOMPAK-JRF dari local stake-holders menjadi sedemikian besar.
Blessing in disguise terjadi ketika Team Verifikasi Gabungan JRF Jateng-DIY masuk kewilayah dampingan. Permasalahan yang selama itu muncul akibat deviasi pemahaman kriteria, menjadi lebih gamblang karena jikapun terjadi pencoretan nama dan pergeseran status dari LAYAK menjadi TIDAK LAYAK justru terfasilitasi oleh hasil Verifikasi Gabungan tersebut. Terlepas dari seluruh rangkaian peristiwa tersebut, harus diakui bahwa effort yang harus dibelanjakan untuk menata sistem dan mekanisme REKOMPAK-JRF Edisi 2006 memang menyita energi yang berlebih. Ter-elaborasikannya seluruh hal dan peristiwa yang menyertai keberadaan REKOMPAK-P2KP Peduli maupun REKOMPAK-JRF pada akhirnya melahirkan komitmen positif bahwa REKOMPAK-JRF Edisi 2007 sebisa mungkin dipersandingkan sedekat mungkin dengan Konsep Awal REKOMPAK-JRF. Sebagai langkah awal, mekanisme uji publik dan rembug warga menempati prioritas utama sebagai upaya untuk menerapkan quality assurance dari penerima manfaat selain sebagai media untuk menjaga utuhnya konstruksi accountability maupun tranparency sebagai upaya penyemaian media belajar publik atas mekanisme kerja yang dianut oleh REKOMPAK-JRF.

Catatan lain yang layak dijadikan media belajar bersama adalah proses kerja REKOMPAK-JRF didaerah non-P2KP. Terjadi keterlanjuran proses yang dilakukan oleh Team REKOMPAK-JRF diaras lapang dalam batasan bahwa sementara ini keterlibatan TPK (maupun wacana revitalisasi atasnya) belum lagi menemukan bentuk nyatanya karena belum adanya payung kesepakatan antara REKOMPAK-JRF dangan PPK (melalui KMKab maupun UPK) atas penunjukan TPK selaku Pengelola kegiatan rehabilitasi – rekontruksi melalui REKOMPAK-JRF dimasing-masing wilayah.

Ditulis dalam Artikel. Tag: , . Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: