Laskar Pelangi

Sinopsis

Sebuah adaptasi sinema dari novel fenomenal LASKAR PELANGI karya Andrea Hirata, yang mengambil setting di akhir tahun 70-an.

Hari pertama pembukaan kelas baru di sekolah SD Muhammadyah menjadi sangat menegangkan bagi dua guru luar biasa, Muslimah (Cut Mini) dan Pak Harfan (Ikranagara), serta 9 orang murid yang menunggu di sekolah yang terletak di desa Gantong, Belitong. Sebab kalau tidak mencapai 10 murid yang mendaftar, sekolah akan ditutup.

Hari itu, Harun, seorang murid istimewa menyelamatkan mereka. Ke 10 murid yang kemudian diberi nama Laskar Pelangi oleh Bu Muslimah, menjalin kisah yang tak terlupakan.

5 tahun bersama, Bu Mus, Pak Harfan dan ke 10 murid dengan keunikan dan keistimewaannya masing masing, berjuang untuk terus bisa sekolah. Di antara berbagai tantangan berat dan tekanan untuk menyerah, Ikal (Zulfani), Lintang (Ferdian) dan Mahar (Veris Yamarno) dengan bakat dan kecerdasannya muncul sebagai pendorong semangat sekolah
mereka.

Di tengah upaya untuk tetap mempertahankan sekolah, mereka kembali harus menghadapi tantangan yang besar. Sanggupkah mereka bertahan menghadapi cobaan demi cobaan?

Film ini dipenuhi kisah tentang kalangan pinggiran, dan kisah perjuangan hidup menggapai mimpi yang mengharukan, serta keindahan persahabatan yang menyelamatkan hidup manusia, dengan latar belakang sebuah pulau indah yang pernah menjadi salah satu pulau terkaya di Indonesia.

Crew:

Director : Riri Riza

Producer : Mira Lesmana

Screen Writer : Salman Aristo

Co-Writers : Mira Lesmana & Riri Riza

Line Producer : Toto Prasetyanto

Executive Producers : Bachtiar Rachman

Associate Producers : Putut Widjanarko & Avesina Soebroto

Director Of Photography : Yadhi Sugandhi

Art Director : Eros Eflin

Editor : Dono WaluyoSound : Budeng & Satrio Budiono

Music Score : Aksan & Titi Syuman

Costume : Chitra Soebijakto

Casting Director (for Belitong Cast) : Ismaya Nugraha

Casting Coordinator : Nanda Giri

Assistant Directors : Titien Watimena

Rivano setyo Utama

Ismaya Nugraha

Cast:

  • Ibu Muslimah : Cut Mini
  • Pak Harfan : Ikranagara
  • Pak Mahmud : Tora Sudiro
  • Pak Zulkarnaen : Slamet Raharjo
  • Bapak Ikal : Mathias Muchus
  • Ibu Ikal : Rieke Diah Pitaloka
  • Pak Bakri : Teuku Rifnu Wikana
  • Ikal (dewasa) : Lukman Sardi
  • Lintang (dewasa) : Ario Bayu
  • Alex Komang, Jajang C.Noer,Robbie Tumewu.
  • Ikal : Zulfanny
  • Mahar : Verrys Yamarno
  • Lintang : Ferdian
  • Kucai : Yogi Nugraha
  • Syahdan : M.Syukur Ramadan
  • A Kiong : Suhendri
  • Borek : Febriansyah
  • Harun : Jeffry Yanuar
  • Trapani : Suharyadi Syah Ramadhan
  • Sahara : Dewi Ratih Ayu Safitri
  • Flo : Marchella El Jolla Kondo
  • A Ling : Levina

PRODUCTION NOTES

Film Laskar Pelangi berkisah tentang perjuangan dua orang guru SD Muhamadiyah dan sepuluh muridnya untuk bertahan dalam mendapatkan pendidikan. Bersetting kehidupan masyarakat di pulau Belitong di pertengahan 1970′an. MILES FILMS dan MIZAN PRODUCTIONS menghidupkan kisah menyentuh yang diambil dari novel bestseller karya Andrea Hirata, demi menyampaikan inspirasi, semangat dan kemauan untuk bekerja keras pada seluruh anak bangsa.

Film Laskar Pelangi ternyata tidak hanya ditunggu-tunggu masyarakat Indonesia, tapi juga telah menarik PT. Pertamina (Persero) untuk menjadi sponsor. Sudirman Said, Sekretaris Perseroan PT. Pertamina (Persero) mengatakan, “Kami bangga dapat menjadi bagian dari film inspirational Laskar Pelangi, yang telah ditunggu-tunggu masyarakat Indonesia. Adalah tanggung jawab kami sebagai coorporate citizenship membuka sebanyak mungkin kesempatan bagi tunas-tunas bangsa untuk memberikan sumbangsih terbaik bagi masa depan Indonesia.”

Untuk film mereka yang kesembilan, produser Mira Lesmana dan sutradara Riri Riza kembali menghadapi tantangan berat. Karena memfilmkan periodic seperti Laskar Pelangi membutuhkan biaya besar, selain menghibur, film ini juga memiliki gagasan yang sangat penting. Mira optimis, “Setelah membaca buku ini dan mempertimbangkan dari segala aspek, saya yakin buku ini penting dan penting untuk dibuat filmnya.” Sementara menurut Putut Widjanarko, Vice President Operation Mizan Publika, dengan terjunnya Mizan dalam produksi film ini, Mizan Prouductions sangat bangga bekerjasama dengan Miles Films menghadirkan film yang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh masyarakat Indonesia ini.

Film ini dibuat berdasarkan sebuah novel yang memiliki banyak pembaca setia. Hampir dipastikan semua pembacanya memiliki imajinasi yang cukup kuat akan kisahnya. Apakah ini menjadi beban? “Kami sangat menghormati orang-orang yang sudah membaca buku ini. Mereka pasti sudah memiliki gambaran masing-masing tentang cerita ini, tentang setiap tokoh di dalamnya, bahkan juga mungkin sudah mempunyai bayangan kuat tentang bagaimana seharusnya film ini dibuat. Tapi terus terang, saya dan Riri tidak mau berkutat dengan pertanyaan, ‘Bagaiman respon pembaca akan film ini nanti?’” ujar Mira.

Riri juga berpendapat, Film dan novel tentunya adalah dua medium yang berbeda. Film The English Patience karya novelis Michael Oodatje mendapat penghargaan Oscar, dikagumi banyak penonton, walau diadaptasi dalam bentuk yang berbeda dari novelnya. Saya mengharapkan akan muncul hal-hal baru di dalam film, namun saya juga berharap tidak mengecewakan pembaca novel.”

Mira dan Riri semakin percaya diri untuk menerjemahkan Laskar pelangi setelah mendapat restu dari sang penulis, Andrea Hirata. Meskipun karyanya digandrungi ribuan penggemar fanatik, Andrea bisa memahami kebutuan Mira dan Riri akan kebebasan untuk berkreasi, dan menegaskan pada keduanya, “Saya percaya Riri dan Mira mengerti cerita buku Laskar Pelangi. Buat apa bikin filmnya kalau sama persis dengan novelnya?”

Untuk penulisan skenario film Laskar Pelangi ditulis oleh Salman Aristo, dengan Mira Lesmana dan Riri Riza sebagai co-writer. Prosesnya dimulai dengan membedah buku itu untuk menentukan fokus dari cerita Laskar Pelangi, yang kemudian dituangkan dalam bentuk sinopsis. Setelah melakukannya selama satu tahun, baru pada draft 11 mereka cukup percaya diri untuk membawanya pada Andrea.

“Meskipun diberi keleluasaan untuk menerjemahkan cerita ini, saya tidak mau kalau cerita ini melompat jauh dari inti kisah Laskar Pelangi yang diciptakan oleh Andrea, ” tegas Mira. Dari draft 11 itu Andrea berkomentar, “Sudah tiga kali saya membacanya dan isinya dahsyat luar biasa.”

Untuk penerjemahan cerita Laskar Pelangi dari buku ke film, sutradara Riri Riza punya treatment tersendiri, “Bagaimanapun, Laskar Pelangi adalah sebuah novel, karya sastra, dimana didalamnya terdapat pengelolaan imajinasi dan dramatisasi, hampir tidak mungkin menceritakan semua itu dalam durasi sebuah film. Menurut saya yang perlu dipertahankan adalah substansinya : keajaiban mimpi, marginalisasi masyarakat, dan ironi dunia pendidikan kita”.

Mira menambahkan,” Kalau kita baca buku Laskar Pelangi, kisahnya diceritakan secara mozaik, dibuat dengan struktur yang melompat-lompat. Dalam film ini kami memutuskan untuk menggunakan struktur yang jelas, seperti yang biasa dikenal sebagai penulisan tiga babak, agar karakter dan plot-nya jelas.” Sementara bagi Salman Aristo, diberi kepercayaan oleh Mira dan Riri dalam menggarap skenario sebuah cerita yang fenomenal seperti Laskar Pelangi memiliki beban dan tantangan tersendiri. Untungnya, dalam proses penggarapan skenario ini Salman tak pernah lepas berdiskusi dengan Mira dan Riri. “Ada tingkat kesulitan yang berbeda saat saya menuliskan novel ini ke dalam sebuah skenario. Keterbatasan durasi dalam menerjemahkan sebuah cerita dengan ratusan halaman dan struktur cerita yang melompat-lompat jadi tantangan tersendiri bagi saya,” cerita Salman.

Penggarapan film Laskar Pelangi memakan waktu lebih dari satu tahun. Waktu yang singkat dibandingkan penggarapan film produksi Miles Films sebelumnya. Mira menuturkan, “Penulisan skenario yang membutuhkan waktu setahun kami paralelkan dengan persiapan, jadi sambil menulis sambil hunting lokasi dan lain lain. Untuk itu, karena skenario belum jadi, bukunya cukup membantu kita membangun rencana, misalnya, gambaran perlunya mewujudkan PN Timah dan SD Muhammadiyah dalam bentuk set lokasi. Dari sini kami juga bisa memutuskan bahwa filmnya harus fokus ke satu masa, yaitu saat para tokohnya duduk di kelas 5 dan 6 SD. Lalu, bahwa film ini harus diluncurkan pada masa liburan, seperti libur lebaran pada bulan Oktober 2008. Untungnya semua rencana ini ‘direstui’, karena pada bulan Maret 2008 semua pemeran untuk tokoh-tokoh yang ada sudah ditemukan, mengakhiri proses casting yang dimulai pada bulan Desember 2007. Untuk kami, ini semua terhitung sangat cepat.”

Walau termasuk cepat, proses kasting yang dijalani untuk mendapatkan pemeran tokoh-tokoh film Laskar Pelangi tidaklah mudah. Mira dan Riri tetap berkeras kalau pemerannya harus anak Belitong. Kami beruntung bertemu seorang pembuat film lulusan IKJ , Moyo (Ismaya), yang setelah lulus kuliah kembali ke kampung halamannya di Belitong, saat perjalanan hunting lokasi pertama. Moyo lah yang kemudian berkeliling mencari anak-anak itu, tanpa pakai pengumuman mendatangi sekolah, pasar dan tempat keramaian lain dengan fokus pencarian di daerah Tanjung Pandang, Manggar, dan Gantong. Susah-susah gampang, karena kami harus menemukan sepuluh anak itu dulu, baru menentukan karakternya. Sempat bongkar pasang pula, tapi di detik-detik terakhir menjelang deadline kita temukan juga kombinasinya yang pas.”

Moyo berperan besar dalam mempersiapkan fisik dan mental anak-anak tersebut selama empat bulan berikutnya. Riri bercerita, “Saya dan Mira datang untuk berdialog dan baca skrip dengan mereka. Kami berikan catatan tentang karakter masing-masing tokoh dan bagaimana para tokoh itu berinteraksi satu dengan yang lainnya. Saat kami kembali ke Jakarta, Moyo yang melanjutkan berlatih dengan mereka. Pada kunjungan berikutnya kita mulai belajar blocking, dan ketika saya dan Riri harus pulang, Moyo melanjutkan melatih mereka.”

Mira pun tak sungkan berbagi cerita tentang para pemeran, anak-anak asli Belitong itu, “Mereka datang kasting naik sepeda, bahkan ada yang masuk ruang kasting dengan baju basah karena keringat habis main bola. Rasa ingin tahu mereka tentang film sendiri sangat besar, walau, mungkin karena tidak satu pun dari mereka pernah masuk bioskop, sama sekali tak tersirat adanya keinginan menjadi bintang film.”

Riri menambahkan, “Untungnya, anak-anak itu telah memiliki bakat tersendiri, dan masing-masing mempunyai latar belakang yang serupa dengan para tokoh yang mereka perankan, yaitu sama-sama merasakan pahit manis sebagai masyarakat Belitong. Verrys, pemeran Mahar dan Rama, pemeran Trapani misalnya, datang dari keluarga sangat sederhana, sementara Yogi, pemeran Kucai, bekerja sambilan sebagai tukang parkir. Jefry pemeran Harun, anak yang berkebutuhan khusus, kami temukan di sebuah sekolah luar biasa di Tanjung Pandan.”

Bahu membahu, seluruh tim produksi bekerjasama demi yang terbaik untuk film ini. Eros Eflin, yang bertanggungjawab sebagai penata artistik, berbagi cerita, “Dibutuhkan sekitar tiga minggu untuk membangun kembali gedung SD Muhammadiyah yang sesuai dengan deskripsi dalam novel, untungnya, bahan-bahan seperti kayu tua mudah ditemukan, bahkan kami mendapat bantuan dari pemerintah daerah setempat. Gerbang PN Timah juga kami bangun kembali sebagai pertanda kekontrasan yang ada, sementara untuk rumah Ikal kami menggunakan rumah salah satu penduduk yang cocok dengan gambaran kami.”

Aksan dan Titi Sjuman, sang penata musik, mengaku sangat excited, “Kami ingin membuat musik yang pas, yang kaya akan unsur-unsur tradisional. Aksan pun sampai khusus menciptakan alat musik baru, perpaduan antara gitar dan oud (sejenis sitar). Untuk mendapatkan ’suara’ tradisional Belitong, kita mencarinya dari musik iringan tarian khas Belitong yang masih kental dengan pengaruh musik Sumatera Selatan dan mengandung unsur Timur Tengah dan Cina.”

Memerankan tokoh Ibu Muslimah dalam film ini mewujudkan impian Cut Mini untuk bermain dalam film yang disutradarai Riri Riza. “Walau jadwal latihannya terhitung singkat, sekitar tiga minggu saja, saya berkali-kali latihan sendiri, baris demi baris dialog saya artikan maksud dan tujuannya. Awal latihan, logat saya masih Malaysia sekali, sampai akhirnya dipanggilkan seorang guru yang mau membacakan skenario dengan dialek Belitongnya yang kemudian saya rekam dan setiap hari saya dengarkan untuk latihan,” paparnya.

Cut Mini mengaku, adegan paling sulit adalah ketika harus beradu akting dengan Bakri (Rifnu Wikana), guru SD rekannya yang berhenti mengajar di SD Muhammadiyah, “Waktu itu emosi saya terlalu tinggi, sulit menahan diri untuk tidak menangis, dan akhirnya saya menyerah. Rasanya bodoh sekali, sekaligus kasihan pada Mas Riri dan para kru yang sudah susah payah menata set di tengah teriknya matahari Belitong.”

Sementara bagi Riri Riza, puncak dari rangkaian produksi film Laskar Pelangi adalah saat syuting scene ‘Karnaval’, “Ini adalah scene besar, pemainnya sangat banyak, figurannya saja hampir 300 orang, dengan waktu penggarapan yang panjang. Kami sampai membujuk masyarakat setempat untuk mau bekerjasama, juga karena sebagian jalanan harus ditutup untuk lokasi syuting. Di hari tersebut, selain akan ditampilkan pertunjukan koreografi yang sudah dipersiapkan selama dua bulan sebelumnya, juga terdapat adegan dialog dan karakterisasi.”

Akhir kata, Riri menyimpulkan, “Satu hal yang ingin kami sampaikan dari film ini, adalah bahwa manusia harus punya semangat, keinginan untuk terus mencoba. Cerita tentang impian dan harapan yang kaya di dalam buku ini seperti juga seperti cambuk buat kami untuk tetap bertahan membuat film yang baik”.

“Melalui film yang memberikan inspirasi ini, Pertamina ingin mendorong semua komponen bangsa untuk berjuang meraih cita-cita. Seperti perjalanan tokoh film Laskar Pelangi dalam mencapai cita-citanya. Pertamina juga sedang berusaha keras untuk bertransformasi menjadi Perusahaan Minyak Nasional dengan standar internasional. Dan Pertamina memiliki keyakinan yang kuat dalam mencapai cita-cita yang akan memberi kebanggaan pada bangsa tersebut,” jelas Sudirman Said.

BIOGRAFI PEMAIN

Cut Mini, sebagai Bu Muslimah, lahir di Jakarta tanggal 30 Desember tahun 1973. Mengawali karirnya di usia 15 tahun sebagai foto model sebuah majalah remaja, namanya mulai dikenal saat menjadi model video klip penyanyi Andre Hehanusa. Kemudian Mini mulai merambah dunia entertainment, sebagai presenter, bintang sinetron dan pemain film. Ia pun sempat dikontrak sebuah rumah produksi yang bekerjasama dengan TV3 untuk berperan di beberapa sinetron yang dibintangi 7 pemain dari 7 negara, di antaranya Brunei, India, Indonesia dan Malaysia. Pada tahun 2003, namanya pun semakin terangkat berkat film pertama yang dibintanginya, ‘Arisan’.

Ikranagara, sebagai Pak Harfan, lahir di Bali, 19 September 1943. Selain sebagai sastrawan, ia juga terkenal sebagai aktor, baik di atas panggung teater, di layar kaca, seperti dalam sinetron ‘Masih Ada Waktu’, maupun di layar perak, seperti dalam film ‘Kejarlah Daku Kau Kutangkap’ dan ‘Under The Tree’.

Mathias Muchus, sebagai Ayah Ikal, lahir di Pagar Alam, Sumatera Selatan, 15 Februari 1957. Pada tahun 1980-an ia terkenal dengan perannya sebagai Tarjo dalam sinetron ‘Losmen’ di TVRI. Hingga kini, puluhan judul sinetron dan film layar lebar seperti sinetron ‘Intan’ dan film ‘Petualangan Sherina’ telah dilakoni seniman lulusan Institut Kesenian Jakarta. Ia pun pernah meraih Piala Citra pada Festival Film Indonesia di tahun 1988 sebagai aktor terbaik di film ‘Istana Kecantikan’.

Tora Sudiro, sebagai Mahmud, lahir di Jakarta tanggal 10 Mei tahun 1973. Walau tak memiliki latar belakang pendidikan film, di panggung layar lebar nama Tora melesat bagai teror lewat film ‘Arisan’ yang dibintanginya pada tahun 2003. Dari film tersebut Tora meraih Piala Citra sebagai Pemeran Utama terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2004, dan tawaran bermain di sejumlah sinetron dan film layar lebar pun mulai mengalir. Tahun ini saja, Tora telah tampil di lebih dari 3 film layar lebar, seperti ‘Otomatis Romantis’, ‘Namaku Dick’ dan ‘Tri Mas Getir’.

Slamet Rahardjo Djarot, sebagai Pak Zulkarnaen, lahir di Serang, Jawa Barat, pada tanggal 21 Januari 1949. Pada tahun 1968 ia memulai karier dalam bidang teater dengan bergabung dalam Teater Populer bersama Teguh Karya. Diawali dengan aktingnya dalam film layar lebar berjudul ‘Ranjang Pengantin’ pada tahun 1974 yang menuai Piala Citra dalam kategori Aktor Utama, selanjutnya lebih dari dua lusin judul film dan sinetron telah dibintanginya hingga hari ini, seperti film ‘Badai Pasti Berlalu’ (1977) dan ‘Badai Pasti Berlalu’ (2007).

Rieke Diah Pitaloka, sebagai Ibu Ikal , lahir di Garut, Jawa Barat, 8 Januari 1974. Ia mulai dikenal masyarakat lewat aktingnya sebagai Oneng dalam serial komedi situasi ‘Bajaj Bajuri’. Sempat menjajal panggung teater dengan keikutsertaannya dalam pementasan berjudul ‘Cipoa’ garapan Putu Wijaya, Rieke kemudian merambah dunia layar lebar dengan perannya dalam film ‘Berbagi Suami’. Wanita multitalenta ini, selain dalam kegiatan politik, juga aktif sebagai presenter acara TV dan penulis buku, salah satunya berjudul Renungan Kloset.

Lukman Sardi, sebagai Ikal Dewasa , lahir di Jakarta, 14 Juli 1971. Karirnya berawal sebagai aktor anak dengan debutnya dalam film berjudul ‘Kembang-kembang Plastik’. Dua dekade kemudian, setelah dewasa, Lukman kembali merambah dunia layar lebar, dengan tampil dalam film ‘Gie’, dan selanjutnya berturut-turut tampil dalam beberapa film seperti ‘9 Naga’ dan ‘Quickie Express’. Bakat dan kerjakerasnya pun telah diakui, beberapa di antaranya Nominasi Pemeran Utama Pria Terbaik – Festival Film Indonesia 2006 Jakarta untuk Piala Vidia dan Pemeran Utama Pria Film Terpuji – Festival Film Bandung 2006.

Robby Tumewu, sebagai Pemilik Toko Sinar Harapan, lahir di Bandung, 4 Desember 1953. Pada tahun 1990 desainer fesyen ini mendapat tawaran untuk bergabung dengan ‘Lenong Rumpi’, dan dari sini berlanjut dengan berperan dalam sejumlah judul drama komedi seperti ‘Keluarga Van Danoe’ dan ‘Oke-Oke Bos’. Tak hanya untuk sinetron, Robby juga telah unjuk bakat di beberapa film layar lebar seperti ‘Ca Bau Kan’, ‘Gie’, dan ‘Belahan Jiwa’.

Jajang C. Noer, sebagai Bu Harfan, lahir di Paris, Perancis, pada tanggal 28 Juni 1982. Aktor senior ini telah fasih malang melintang di dunia seni peran, dan sampai saat ini telah tampil di puluhan judul film layar lebar. Perannya dalam film ‘Bibir Mer’ pun menuai prestasi sebagai pemenang dalam kategori Aktris Pendukung Terbaik – Festival Film Indonesia 1992.

Alex Komang, sebagai Ayah Lintang, lahir di Jepara, Jawa Tengah, 17 September 1961. Ia adalah salah satu murid Teguh Karya dari Teater Populer. Namanya mulai dikenal dalam film layar lebar Doea Tanda Mata. Sampai sekarang aktor senior Indonesia ini telah membintangi beberapa film nasional dan telah meraih penghargaan aktor terbaik FFI 1987.

T. Rifnu Wikana, sebagai Pak Bakri. Ia telah merintis seni peran sejak beberapa waktu lalu dan unjuk tampil di sejumlah film layar lebar, seperti ‘Pocong’, ‘Otomatis Romantis’, dan ‘Extra Large, Antara Aku, Kau dan Mak Erot’.

Ario Bayu, sebagai Lintang Dewasa. Ia mulai dikenal masyarakat sejak muncul dalam film Pesan Dari Surga, dan semakin matang aktingnya dengan perannya dalam beberapa film seperti ‘Kala’ dan ‘In The Name Of Love’.

BIOGRAFI PEMBUAT

Riri Riza (Sutradara)

Riri Riza, lahir pada tahun 1970, lulusan dari Institut Kesenian Jakarta dan mengambil program Master Feature Film Screen Writing di Holloway University of London. Film pendeknya yang berjudul “Merry Go Round” memenangkan penghargaan pada Festival Film Pendek Internsional di Oberhausen. Pada 1998, ia ikut menyutradarai film romansa “Kuldesak” yang telah diputar di beberapa festival seperti di Rotterdam, Deauville, dan Singapura. Karya penyutradaraan panjang pertamanya adalah “Petualangan Sherina”, sebuah drama musikal yang sangat sukses. Pada 2002, ia ikut menulis dan menyutradarai “Eliana, Eliana”, yang menerima penghargaan Sineas Muda, dan Netpac / Fipresci Jury Awards di Festival Film Internasional Singapura 2002. Film terakhir Riri berjudul “Gie”, memenangkan penghargaan untuk Sinematografi Terbaik pada Festival Film Indonesia 2005, Special Jury Prize pada Festival Film Internasional Singapura 2006, dan penghargaan yang sama pada Festival Film Internasional Asia Pasifik Ke-51 tahun 2006.

Mira Lesmana (Produser)

Mira Lesmana kuliah di Institut Kesenian Jakarta, mengambil jurusan penyutradaraan, dan kemudian memilih untuk memproduksi film sebagai karir utamanya. Film critics menempatkannya pada jajaran atas produser yang berpengaruh dan berambisi di Indonesia. Film-film yang telah diproduksinya berkisar dari film box office besar yang sukses seperti “Ada Apa Dengan Cinta ?” hingga film yang menyatakan secara kritis seperti “Eliana, Eliana”, dari romansa dengan dana minim hingga produksi kisah kepahlawanan seperti “Gie”, ia juga merangkul sutradara-sutradara baru yang berbakat.

Salman Aristo (Penulis Skenario)

Mengawali debutnya di tahun 2004 lewat film Brownies, Salman Aristo langsung menunjukkan prestasinya dengan berhasil masuk menjadi salah satu nominator Penulisan Skenario di Festival Film Indonesia di tahun 2005. Di tahun 2006, Salman kembali dinominasikan untuk film Jomblo. Sederetan film layar lebar ditulisnya dan berhasil masuk box office, seperti Ayat-Ayat Cinta, Karma, dan Garuda di Dadaku, Party Prita, dan terakhir Laskar Pelangi.

Yadi Sugandi (Penata Sinematografi)

Yadi Sugandi dikenal sebagai seorang yang mempunyai idealisme dan dedikasi tinggi terhadap dunia film. Ia pernah memperoleh penghargaan sebagai Best Cinematographer di Festival Film Asia Pasifik ke-46, dan juga pernah diundang Kodak Cinematography Master Class di Bangkok tahun 2003 dan menjadi satu-satunya wakil Indonesia dari 17 negara yang hadir. Pria berusia 48 tahun ini menjadi salah satu orang yang ikut terlibat proyek Megalithikum Kuantum dan dipercaya sebagai salah satu dewan juri di Makati Cinemanila 2004. Pengalamannya di bidang film antara lain Petualangan Sherina, Pasir Berbisik, Eliana Eliana, dan Bendera.

Eros Eflin (Art Director)

Pria kelahiran Padang Panjang ini pernah mengenyam pendidikan Seni Rupa di IKJ ini memulai karirnya sebagai art director lewat iklan dan video klip, sebelum akhirnya diajak bekerjasama oleh Riri Riza dalam Petualangan Sherina. Setelah itu sejumlah film ikut digarapnya, antara lain Rumah Ke Tujuh, Brownies, Mirror dan Untuk Rena.

Satrio Budiono (Penata Suara)

Lulusan FISIP Unpar jurusan Administrasi Niaga ini pertama kali berkecimpung dalam bidang produksi film di Petualangan Sherina (1998). Sejak saat itu ia jatuh cinta dengan dunia film, dan telah menjadi penata suara di lebih dari 30 film layar lebar. Pria yang kerap dipanggil Yoyo ini, ternyata juga adalah seorang anak band ketika masih SMA dan kuliah, dan hal itu memberikan keuntungan sendiri bagi profesinya saat ini. “Basicnya saya dulu nge-band, jadi saya tahu dasar dari penataan suara,” jelasnya. Selebihnya, ilmu tentang penataan suara dalam sebuah film ia pelajari secara otodidak. GARASI adalah filmnya yang ke-34.

***

Informasi lebih lanjut:

Miles Films Jl. Pangeran Antasari No. 17, Cipete Selatan, Jakarta 12410

Telp. 021-7500739/503, Fax.021-75817755

e-mail : publikasilaskarpelangi@gmail.com

contact: Imelda Achsaningtias (publicist) –


2 Tanggapan to “Laskar Pelangi”

  1. merliana Says:

    sangad komplit dan bagus

  2. dhevi Says:

    ceritanya bagus banget,saya suka sekali sama ceritanya


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: